Sabtu,16 April 2016 17:52 WIB

Penulis: Otomotifnet

Pasang Braket GPS di Motor, Ternyata Bisa Melawan Highway Hypnosis

  • Foto: Sigit/otomotifnet

    Salah satu GPS stand alone yang jadi andalan para pencita turing, Garmin Zumo 390 yang dijual Rp 6,8 juta. Tak perlu mengandalkan koneksi internet, peta selalu tersedia

  • Foto: Sigit/otomotifnet

    Braket Garmin Zumo 390 ini terkoneksi langsung dengan arus listrik dari aki, sehingga enggak perlu repot-repot untuk charge GPS pakai listrik rumah charging

  • Foto: Sigit/otomotifnet

    Kalau untuk smartphone bisa manfaatkan merek Ahha, waterproof dengan double protection

  • Foto: Sigit/otomotifnet

    Ada juga model yang murah Rp 150 ribuan, belum waterproof harus hati-hati saat hujan, bisa amsyong bro!

  • Foto: Sigit/otomotifnet

    Untuk skutik seperti Yamaha NMAX bisa dibor bagian tengah setang lalu tinggal dibaut pakai braket sepeda. Produk Ibera dijual Rp 250 ribu

Perhatikan juga sudut braketnya, jangan terlalu rendah karena membuat respons mata lebih lambat

Jakarta - Buat yang suka turing, ketergantungan pada Global Positioning System (GPS) makin tinggi. Dari GPS stand alone sampai yang gratisan dari smartphone bisa digunakan. Makin advance, beberapa aplikasi seperti Google Maps & Waze mampu menawarkan rute tercepat bahkan menghidari kemacetan.

Meski sangat fungsional, ternyata banyak yang mempertanyakan, apakah saat dipasang di sepeda motor tidak berbahaya? Ternyata, aplikasi GPS selain sebagai penunjuk arah, juga bermanfaat untuk meningkatkan konsentrasi!

“GPS membantu kita terhindar dari efek highway hypnosis, dan berfungsi sebagai pengalihan sementara atau dengan kata lain untuk distraksi mata,” buka Caraka Heru Prabowo, koordinator intrukstur Jakarta Defensive Driving Consulting (JDDC) seraya menjelaskan lebih jauh tentang highway hypnosis.

Pasang Braket GPS di Motor  Melawan Highway Hypnosis
Pasang Braket GPS di Motor Melawan Highway Hypnosis

“Yaitu, salah satu efek yang terjadi saat mata terlalu lama merekam satu titik sehingga ketika jalanan berbelok mata dan pikiran akan tetap melihatnya sebagai jalan lurus. Hal ini yang sering menyebabkan kecelakaan,” lanjut Heru.

Namun tentunya, pengoperasian GPS ini juga tetap harus dilakukan dengan bijak. “Pengoperasian GPS stand alone maupun GPS via smartphone, mesti dilakukan dalam kondisi berhenti,” wantinya. Setelah navigasi diaktifkan baru boleh jalan kembali.

Bukan cuma perilaku berkendaranya, braket pemegang GPS juga harus dipasang di posisi yang benar. “Posisi GPS atau smartphone yang difungsikan sebagai perangkat navigasi ini tidak boleh terlalu rendah. Paling aman sejajar dengan mata, maksimal 45º sampai 50º,” jelas Fery Susanto, instruktur lepas safety riding di Kalimantan Timur ini.

“Jika kurang dari itu, atau lebih merunduk maka respon mata tidak bisa menangkap bahaya yang ada di depan dengan cepat,” sambungnya.

Sedang pilihannya, ada banyak dan bisa mudah ditemui di toko perlengkapan gadget. Untuk memasangnya di setang cukup gunakan kunci 10 mm. Harga yang ditawarkan juga beragam, mulai dari Rp 150 ribu hingga Rp 350 ribu,

“Umumnya konsumen pilih yang waterproof, biar aman jika tiba-tiba hujan,” Jelas Suwili Aris, pemilik gerai spesialis gadged Toko Plaza di STC Senayan, Jaksel. Sesuaikan dengan kocek deh. •(otomotifnet.com)

EDITOR

Dimas Pradopo

Top