Selasa,15 Maret 2016 19:15 WIB

Penulis: erie

Rio Haryanto Jelang Seri Perdana

Tommy Soeharto: Tahun 1993 Akan Kita Jadikan

Foto: Dok. OTOMOTIFNET.COM

Sirkuit Sentul Bogor, waktu itu seri Formula Asia jadi tahap 'pemanasan' sebelum F1

JAKARTA - Pekan ini, Rio Haryanto akan bikin ‘pecah telor’ di arena F1.

Hal ini akan menjadi salah satu titi bersejarah bagi dunia motorsport Indonesia.

Sejatinya sudah sejak awal tahun ’90-an upaya mewujudkan angan untuk bisa berperan serta di F1 dilakukan.

Salah satu tokoh yang banyak diharapkan untuk bisa menghadirkan balap single seater itu adalah Hutomo Mandala Putra.

Waktu itu, sebagai Ketua Umum PB IMI periode 1991-1995, segala harapan diletakkan di pundaknya.

Ditemui tak lama setelah dipilih secara bulat sebagai Ketua Umum PB IMI ia sempat pula menjelaskan rencananya untuk memboyong balap F1 ke Indonesia.

Berikut cuplikan wawancara dengan pria yang akrab dipanggil Tommy itu. Sebagaimana yang pernah dimuat di Tabloid OTOMOTIF Edisi 27 Tahun 1991.

Apa target Anda dalam masa kepengurusan 1991-1995 ini?

Ada empat program yang diprioritaskan. Yakni konsolidasi organisasi, membakukan peraturan, menyediakan sarana dan prasarana olahraga bermotor dan mencetak atlet bertaraf internasional-setidaknya di tingkat Asia.

Apa cukup dalam waktu empat tahun?

Insya Allah. Tapi mesti kita coba dan mulai.

Tadi Anda sebut bahwa sarana itu ikut menentukan kualitas. Lalu kira-kira kapankah sirkuit Sentul ditargetkan selesai, mengingat planning-nya yang cukup lengkap dan memadai?

Keseluruhannya mungkin 1993. Tapi 1992 nanti kita harapkan sebagian besar sudah selesai dan sudah bisa dipakai.

Kok lama ya, padahal peletakan batu pertama dilakukan pada 1986?

Itu tadi. Tak lepas dari kesulitan sponsor.

Lantas alokasi dana yang kini ada, diperoleh dari mana?

Dari kita sendiri. Dari BP (Badan Pengelola) Ancol, juga dari Gaikindo.

Berapa besar?

Ya, lumayanlah. He..he...

Lantas bagaimana PB IMI mengembalikannya?

Lho, dana itu kan kita ambil dari BP Ancol sendiri. Jadi kita tak perlu mengembalikan. Malah kalau di sini (Sirkuit Ancol, red) jadi dibangun real estate, kita masih dapat persentase bagian.

Pelaksanaan pembangunan sirkuit itu, apakah sepenuhnya ditangani putra Indonesia?

Dari perusahaan Indonesia juga, yang diakui FIA dan FISA. Jadi betul-betul, nantinya. Dan sirkuitnya sendiri, sudah diaprove menurut standar internasional untuk Formula-1.

Maksudnya, apakah juga melibatkan tenaga asing?

Ya, tenaga desain lay-out-nya itu yang dari FIA dan FISA, yang disesuaikan dengan lahan yang ada.

Nantinya, apakah semua event balap dipusatkan di sana?

Semua di sana. Sirkuit motocross pun ada. Di Ancol ini nantinya kan jadi real estate. Akan dikapling-kapling.

Soal F1 sendiri, kira-kira kapan bisa diselenggarakan?

Mungkin 1993 nanti baru akan kita jadikan. Entah, nantinya akan di-approve jadi seri dunia atau tidak, yah...kita tunggu nanti. Tapi menurut rencana kita, akhir 1992 sudah bisa dipakai buat kejuaraan Piala Presiden. Itu pun kalau tidak ada kendala, dari segi konstruksinya, cuaca dan sebagainya.

Apa tidak sebaiknya mengadakan F3 atau F2 lebih dahulu?

Itu juga. Maksud saya, pemikiran seperti itu akan kita jajaki. Juga untuk Grand Prix motor.

Malaysia lebih dulu mampu menyelenggarakan Grand Prix...

Yah, kita akan buat jauh lebih bagus dari mereka.

Berarti pengelola dan penyelenggara nanti, mesti profesional?

Harus. Kalau nggak, kita tidak akan bisa.

Atau ada altematif lain. Misalnya, pada awalnya diserahkan dulu pada pihak luar yang lebih berpengalaman?

Ya..ya..Kita sudah adakan kerjasama dengan pihak Australia. Dari klub swasta juga.

Bentuknya?

Kerjasamalah..

Untuk menyongsong suasana internasional itu, langkah apa saja yang dilakukan PB IMI?

Sekarang kita, istilahnya, menggiatkan otomotif ini untuk menjadi kegemaran terlebih dahulu. Baru nantinya diarahkan lebih lanjut. Dan itu sudah mulai berkembang kan? Buktinya event-event sudah dijalankan. Sudah mulai rutin, dari apa namanya kalender IMI-DKI. Dan ini nanti pada 1992, semuanya dari kalender PB IMI. Itu kita pertahankan. Jadi kalender itu mesti dijalankan secara konsekuen, melalui klub-klub. Merek juga kelihatan sudah mulai turun, meski belum semua.

Ngomong-ngomong, berapa panjang sirkuit Sentul?

Wah, berapa ya? Lupa saya. Hm... 4,2 km-lah.

(Olah data: Rahari Pangestu/Otomotifnet.com)

Sirkuit Sentul 1994
Parc ferme saat digelar Formula Asia tahun 1994, sirkuit Sentul memang dibangun untuk gelar F1

 

 

EDITOR

erie

Top