MENGUJI KETANGGUHAN KIJANG INNOVA


OTOMOTIFNET – Menyebut nama Toyota Kijang Innova, yang terpikir di benak kita adalah sebuah Medium MPV keluarga yang tangguh, nyaman sekaligus lega. Padahal menurut pengakuan Achmad Rizal, “masih banyak hal penting yang ingin dicapai oleh mesin 1TR-FE Euro 2 yang dipakai Kijang Innova,” papar pria ramah yang menjabat Manager Marketing Communication PT Toyota Astra Motor (TAM).

Mesin Kijang Innova berkonfigurasi 4 silinder segaris berkapasitas 1.998cc. Tenaga puncaknya mencapai 136 dk di 5.600 rpm dan torsi maksimalnya 182 Nm pada 4000 rpm.

Untuk memenuhi kebutuhan sebuah MPV andalan keluarga, spek tersebut dirasa lebih dari cukup. Dan hebatnya, mesin 1TR-FE Euro 2 ini selain bertenaga juga ramah lingkungan.

Tentunya kombinasi tenaga maksimal dan emisi yang ramah lingkungan ini berkat diaplikasikannya teknologi canggih seperti DOHC (Double Over Head Camshaft). Perangkat DOHC ini pun makin efisien karena dikawinkan dengan teknologi VVT-I (Variable Valve Timing with Intelligent).

VVT-I adalah perangkat yang bertugas mengatur buka tutup klep sesuai dengan putaran mesin dan volume udara yang masuk ke dalam ruang bakar. VVT-I menghasilkan torsi yang lebih optimal disetiap kecepatan dan putaran mesin sekaligus mengefisienkan konsumsi bahan bakar. Sistem VVT-I yang mengatur campuran bahan bakar dan udara dengan lebih akurat didukung oleh teknologi Drive By Wire pada pedal gas. Bukaan katup gas pun disesuaikan dengan program komputer untuk mendapatkan efisiensi bahan bakar tinggi.

Teknologi lain yang menjadi andalan DIS (Distributorless Ignition System), tanpa adanya distributor pengapian maka setiap busi akan mendapatkan satu koil. Otomatis proses pengapian makin akurat. Ruang bakar makin bersih dari tumpukan karbon karena pembakaran makin sempurna. Sedang emisinya yang rendah disumbang oleh aplikasi sistem injeksi closed loop dengan oxygen sensor. Serta penambahan catalytic converter yang membuatnya lolos standar emisi Euro2.

LOMPATAN TEKNOLOGI KIJANG INNOVA, MENINGKATKAN PERFORMA DAN EFISIENSI!

Bicara semua teknologi yang terdapat pada Toyota Kijang Innova, pastinya menjadi menarik ketika membandingkan dengan varian Kijang sebelumnya. Tentunya sudah banyak perkembangan dan evolusi baik pada desain maupun teknologi penentu performa dan efisiensi.

Tidak perlu jauh-jauh menarik mundur, cukup membandingkan dengan generasi Kijang “Kapsul” yang masih banyak digemari hingga saat ini. Mulai dari desain tentunya tak perlu diragukan lagi. Tampilan khas MPV masa kini mengubah wajah Toyota Kijang Innova dan membedakannya dari generasi Kijang Kapsul. Pun demikian dengan teknologi yang diusung. Bayangkan sejak generasi Kijang Kapsul, total ada lima teknologi mesin yang dianut. Pertama mesin 7K, 1.785 cc karburator yang dipakai pada generasi awal Kijang Kapsul pada 1997. Dapur pacu ini kemudian mendapat teknologi injeksi dengan kode mesin 7K-E pada awal 2000an.

Kemudian hadir juga varian lain dengan dapur pacu 1RZ-E berkapasitas 1.988 cc di penghujung tahun yang sama. Tidak perlu diragukan, tenaga melimpah didapat dari mesin 1RZ-E dengan kapasitas yang besar juga. Dari 80 dk/4.000 rpm pada 7K karburator dan 84 dk/4.000 rpm di 7K injeksi menjadi 97 dk/4.800 rpm. Perkembangan teknologi pun kian tinggi pada generasi terakhir Kijang, yaitu Kijang Innova. Dengan sumber tenaga 1TR-FE, berkonfigurasi 4 silinder segaris 1.998 cc mampu meletupkan 136 dk/5.600 rpm dengan torsi maksimal 183 Nm/4.000 rpm.

Meski kapasitas serupa dengan mesin 1RZ-E pada Kijang Kapsul, tenaga yang dihasilkan nyaris beda 40 dk. Membuat Innova terasa lebih responsif dan bertenaga, terutama kala berakselerasi maupun melahap tanjakan. Padahal bobot Innova 1.525 kg, lebih berat dari Kijang Kapsul yang 1.435 kg.

Dan hebatnya lagi, selain lebih ramah lingkungan karena sudah lolos Euro 2, OTOMOTIF juga membuktikan bahwa mesin Toyota Kijang Innova yang berkapasitas mesin lebih besar ternyata lebih irit bahan bakar bila dibandingkan dengan mesin Kijang Kapsul yang kapasitas mesinnya lebih kecil. Tenaga besar tapi lebih irit, mau?


Toyota Kijang Innova sudah satu kali mengalami perubahan wajah. Namun bukan hanya sekadar bersolek rupa. Melainkan mengalami transformasi cukup signifikan di mesin agar mampu melampaui standar emisi Euro 2. Nah, kini kita bongkar teknologinya.

Paling kentara adalah hadirnya catalytic converter pada saluran gas buang. Catalytic converter ini menyaring gas-gas beracun dari hasil pembakaran mesin sebelum dibuang ke udara bebas. Namun, penggunaan catalytic converter tidak sendirian.

Karena sistem injeksi pun diubah menjadi sistem closed loop. Oxygen sensor merupakan tanda hadirnya sistem closed loop. Sensor ini membaca jumlah oksigen di gas buang sehingga campuran bahan bakar dan udara selalu terjaga ideal pada angka 14,7:1.

“Dengan adanya sensor oksigen ini, maka setelan CO sudah tidak ada lagi,” jelas Iwan Abdurahman, Section Head of Technical Service PT TAM. Selain itu charcoal cannister yang sebelumnya ada di belakang, kini lebih besar dan tampak di ruang mesin. “Dengan standar Euro lebih tinggi, charcoal cannister juga biasanya lebih besar,” lanjut pria murah senyum ini.

Injektor bahan bakarnya sendiri pun ikut disempurnakan. “Jika sebelumnya hanya 4 lubang, yang baru punya 12 lubang. Atomisasi bahan bakar lebih baik, maka pembakaran pun lebih sempurna,” beber pria asal Bandung ini.

Terakhir, disempurnakan dengan ECU yang berbeda dengan sebelumnya. “ECU baru beda program karena sudah pakai oxygen sensor,” lanjutnya. Tidak heran kalau Kijang Innova makin efisien.

Tidak hanya di atas kertas, berdasarkan hasil pengujian yang dilakukan oleh BPPT – BTMP (Badan Pengkajian dan Penerapan Teknologi – Balai Termodinamika, Motor dan Sistem Propulsi), PUSPIPTEK Serpong dengan menggunakan metode pengujian konsumsi bahan bakar berstandar internasional UN ECE R85 dan siklus uji ECE 83-04, Kijang Innova Euro 2 terbukti lebih efisien dibandingkan Non Euro.
KIJANG INNOVA,
IRIT DAN RAMAH LINGKUNGAN!
BAHAN BAKAR APA
PALING COCOK
BUAT KIJANG INNOVA?



Salah satu yang menjadi perhatian paling penting dalam pengetesan Toyota Kijang Innova tahap pertama adalah menguak konsumsi bahan bakar mobil berkapasitas mesin 1.998cc ini.

Ada dua pembuktian, pertama mencari tahu, mana bahan bakar yang paling cocok dikonsumsi oleh Toyota Kijang Innova.

Dan yang kedua membuktikan bahwa teknologi terkini yang diusung Toyota Kijang Innova, lebih irit dibandingkan dengan generasi Kijang terdahulu yang mengusung kapasitas mesin lebih kecil.


Teknologi Muda Terbukti Lebih Irit
Pada pengetesan ini juga dibandingkan konsumsi bahan bakar Toyota Kijang Innova dengan data pengetesan Kijang Kapsul bermesin 1.800cc yang pernah OTOMOTIF lakukan. Dites dengan metode yang sama persis, dan hasilnya Kijang Kapsul bermesin 7K-E, nyatanya tidak lebih irit dari Toyota Kijang Innova.

  Premium Pertamax
Dalam kota 1:8 1:9,2
Konstan 100 km/jam 1:12 1:13,4
Konstan 80 km/jam 1:13,17 1:14,49

Oktan Tinggi Lebih Baik
Banyak pertanyaan yang muncul dari para pengguna kendaraan anyar, lebih baik pakai oktan 88 atau 92 ya? Toh, kedua jenis bahan bakar ini masih bisa digunakan oleh Toyota Kijang Innova. Kijang Innova sudah mengaplikasi sistem Euro 2, artinya sudah menggunakan sensor oksigen dan catalityc converter di saluran gas buang. Dengan demikian, campuran bahan bakar selalu dijaga ideal pada komposisi 14,7:1.

Dengan komposisi campuran bahan bakar dan udara yang ideal itu, dalam semua kondisi berkendara kendaraan akan mengonsumsi bahan bakar dengan efisien. Termasuk perubahan oktan, selain terbaca dari sensor oksigen, kondisi mesin juga dibaca dari knock sensor.

Hal ini sedikit menjelaskan mengapa kalau pakai oktan 92 (Pertamax) bisa lebih bertenaga tetapi lebih irit dari (Premium). Kan, bensin beroktan tinggi bisa mencegah knocking (ngelitik), jadi pengapian bisa dimajukan karena belum ada ngelitik yang terbaca knock sensor.

Sehingga hanya dengan menekan pedal sedikit saja, mobil sudah melaju. Ditambah lagi, ECU mesin bisa mengurangi setting campuran bensin untuk mencapai campuran ideal. Itu teorinya, mari dibuktikan! Toyota Kijang Innova pun diajak mencoba kedua bahan bakar ini. Beberapa penghitungan dilakukan dengan beberapa kondisi. Pertama, kondisi standar pengujian OTOMOTIF, dengan menyusuri jalan tol konstan 100 km/jam.

Penghitungan kedua dilakukan dengan mengendarai Kijang Innova di dalam kota dengan kondisi sehari-hari. Pasrah bertemu dengan kemacetan maupun tancap gas ketika perlu akselerasi untuk menyalip. Selain itu, dilakukan pengecekan juga akan kemungkinan econo drive pada kecepatan konstan lebih rendah, yaitu 80 km/jam.

  Premium Pertamax
Dalam kota 1:8 1:9,2
Konstan 100 km/jam 1:12 1:13,4
Konstan 80 km/jam 1:13,17 1:14,49