<?xml version="1.0" encoding="UTF-8"?>
<rss version="2.0"
	xmlns:content="http://purl.org/rss/1.0/modules/content/"
	xmlns:wfw="http://wellformedweb.org/CommentAPI/"
	xmlns:dc="http://purl.org/dc/elements/1.1/"
	xmlns:atom="http://www.w3.org/2005/Atom"
	>

<channel>
	<title>Blog Otomotif</title>
	<atom:link href="http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/feed/" rel="self" type="application/rss+xml" />
	<link>http://otomotifnet.com/otoblog</link>
	<description>otomotifnet.com</description>
	<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 07:09:58 +0000</pubDate>
	<generator>http://wordpress.org/?v=2.5.1</generator>
	<language>en</language>
			<item>
		<title>Seharusnya Pak Menteri Pakai Mobil Hybrid</title>
		<link>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/10/29/seharusnya-pak-menteri-pakai-mobil-hybrid/</link>
		<comments>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/10/29/seharusnya-pak-menteri-pakai-mobil-hybrid/#comments</comments>
		<pubDate>Thu, 29 Oct 2009 07:08:51 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[bisnis]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otomotifnet.com/otoblog/?p=108</guid>
		<description><![CDATA[Oleh : Rizka Sasongko Aji

OTOMOTIFNET - Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB) baru sudah terbentuk. Ada 34 menteri plus 3 pejabat tinggi negara setingkat menteri yang bakal menjalankan roda pemerintah untuk lima tahun mendatang.
Kabarnya bakal dibekali Toyota Crown Majesta. Mobil yang di Jepang, bila dirupiahkan harganya menjadi Rp 660-749 juta itu, bakal menemani perjalanan dinas menteri [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Oleh : Rizka Sasongko Aji</strong><br />
<strong><br />
</strong><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/10/2010-toyota-prius.jpg"><img class="alignright size-full wp-image-109" title="2010-toyota-prius" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/10/2010-toyota-prius.jpg" alt="" width="300" height="188" /></a><strong>OTOMOTIFNET - </strong>Kabinet Indonesia Bersatu II (KIB) baru sudah terbentuk. Ada 34 menteri plus 3 pejabat tinggi negara setingkat menteri yang bakal menjalankan roda pemerintah untuk lima tahun mendatang.</p>
<p style="text-align: justify;">Kabarnya bakal dibekali Toyota Crown Majesta. Mobil yang di Jepang, bila dirupiahkan harganya menjadi Rp 660-749 juta itu, bakal menemani perjalanan dinas menteri saban harinya.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, perihal mobil ini, sepertinya pemerintah belumlah sensitif terhadap isu yang berkembang. Mulai dari tampil bermewah-mewah, sampai sensitif terhadap persoalan lingkungan dan penghematan.</p>
<p style="text-align: justify;">Makanya, alangkah baiknya bila para menteri yang menjadi simbol pemerintahan, mengadaptasi mobil yang ‘cerdas’; hemat bahan bakar, ramah lingkungan, tetap ber­teknologi tinggi namun bisa diterima oleh rakyat. Yakni mobil hybrid.<span id="more-108"></span><br />
<strong><br />
GOODWIL</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Meski mobil hibrida yang dijual di Tanah Air tidaklah banyak. Sampai saat ini, baru Toyota Prius Generasi III saja yang resmi dijajakan. Sebelumnya ada Honda Civic IMA, tetapi dijual terbatas. Namun begitu, ada sejumlah argumen yang bisa dijadikan pertimbangan mengapa menteri sebaiknya memakai mobil hibrida ketimbang sedan sekelas Crown Majesta.</p>
<p style="text-align: justify;">Yaitu perihal ongkos bahan bakar dan daya tarik investasi. Diihat pada sisi ini, antara Toyota Crown Majesta dengan mobil hibrida, dalam hal ini Toyota Prius Gen III, untuk konsumsi bahan bakarnya jauh lebih irit Toyota Prius.</p>
<p style="text-align: justify;">Dari spesifikasi teknis sudah terlihat. Sama-sama menggunakan mesin masa kini, yang artinya memakai bensin sekelas Pertamax Plus (angka oktan 95) seharga Rp 6.500 per liter (harga 23 Oktober 2009), tetapi konsumsi Prius untuk di dalam kota 1 liter bisa menempuh 17 km. Sedangkan luar kota, mobil bermesin listrik dan konvensional 1.800 cc itu per 1 liter bisa menempuh jarak 20 km (hasil uji OTOMOTIF edisi 19, September 2009).</p>
<p style="text-align: justify;">Sementara untuk Crown Majesta, dengan mesin 4.600 cc berkonfigurasi V8, tentu mengonsumsi BBM lebih banyak ketimbang Prius. Sejumlah situs di internet menorehkan untuk mesin 4.600 cc, konsumsi BBM sekitar 1 liter untuk 6-7 kilometer. Nah, andaikata setiap menteri melakukan perjalanan saban hari antara 40 km, bila memakai Prius hanya menghabiskan 2-3 liter Pertamax Plus.</p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan bila memakai Majesta kurang lebih 6 liter.  Artinya ada selisih 3 liter. Bila dikalikan harga Pertamax Plus Rp 6.500, setiap hari terjadi pemborosan sebanyak Rp 19.500/ hari.</p>
<p style="text-align: justify;">Andai per menteri melakukan perjalanan selama 25 hari per bulan dalam 5 tahun pemborosan menjadi Rp 29.250.000. Itu baru satu menteri. Jika ditotal 34 menteri plus 3 pejabat setingkat menteri maka akan terjadi pemborosan Rp 1.082.250.000. Kecil? Boleh jadi itu yang terlihat</p>
<p style="text-align: justify;">Tetapi, yang lebih penting lagi, bukanlah angka itu. Menteri yang gajinya Rp 16 juta dengan tunjangan Rp 200 juta per bulan itu adalah simbol dari sistem pemerintahan. Bila para menteri itu memakai mobil ramah lingkungan, tentu memberi image positif buat pemerintahan saat ini mata dunia industri otomotif.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini lantaran, dunia sedang disibukkan dengan membuat mobil efisien dan ramah lingkungan. Selain itu, fluktuasi harga minyak dunia yang cenderung semakin meningkat dan tak bisa ditebak, membuat dunia otomotif mulai berlomba mengembangkan mobil-mobil hemat bahan bakar dan ‘hijau’. Perlombaan itu, pun ‘menyeret’ pabrikan-pabrikan besar untuk memproduksi mobil yang sedikit mengonsumsi BBM namun tetap nyaman dikendarai.</p>
<p style="text-align: justify;">Mulai mobil hibrida hingga mobil listrik. Seperti yang dilakukan Chevrolet yang memproduksi Voltz, begitupun dengan Toyota dan Honda yang punya rencana besar dengan mobil hibrida.Lantas, apa hubungannya dengan menteri kabinet bermobil hibrida. Sekali lagi, menteri adalah simbol negara. Bila mereka menggunakan mobil hibrida, tentu hal ini menunjukkan goodwil pemerintah dalam mendukung  pemakaian kendaraan ramah lingkungan.</p>
<p style="text-align: justify;">Bukan hanya perihal ‘hijaunya’ kabinet, tetapi sebagai sebuah dorongan untuk industri otomotif. Mengingat, hingga kini departemen perindustrian sudah mempersiapkan skema insentif untuk produksi eco car.  Hampir mirip dengan Thailand, skemanya juga memberi keringanan pajak buat siapapun pabrikan yang bisa memproduksi dengan kuota tertentu mobil di bawah 1.500 cc.</p>
<p style="text-align: justify;">Artinya, bila seluruh menteri yang berada di jajaran Kabinet Indonesia Bersatu, benar-benar bersatu  untuk setiap langkah antardepartemen, tentu untuk  membangkitkan program industri otomotif Tanah Air bisa segera terwujud.</p>
<p style="text-align: justify;">Seperti industri lain, efek bola salju dari bangkitnya industri otomotif, bisa menyeret industri-industri lainnya. Mulai industri plastik, baja, hingga  sektor-sektor informal lain.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau sudah begitu, kerja menteri pun semakin nyata terlihat. Menyejahterakan rakyat banyak dengan tindakan nyata. bukan sekadar wacana saja. Bukan begitu?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/10/29/seharusnya-pak-menteri-pakai-mobil-hybrid/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Regenerasi Pembalap Ferrari Tanpa Strategi</title>
		<link>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/09/01/regenerasi-pembalap-ferrari-tanpa-strategi/</link>
		<comments>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/09/01/regenerasi-pembalap-ferrari-tanpa-strategi/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 01 Sep 2009 08:11:46 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sport]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otomotifnet.com/otoblog/?p=106</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ahmad Garuda
OTOMOTIFNET - Ketidaktersediaan pembalap muda di tim Ferrari akan menjadi bumerang bagi tim asal Italia itu. Ferrari boleh memiliki dua orang juara dunia, namun jika tidak mendidik pembalap muda, sama saja tidak memikirkan kelanjutan tim tersebut untuk masa yang akan datang. Dan bumerang itu pun mulai terbukti. Sejak Felipe Massa harus menjalani [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p><strong>Penulis : Ahmad Garuda</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><strong>OTOMOTIFNET </strong>- Ketidaktersediaan pembalap muda di tim Ferrari akan menjadi bumerang bagi tim asal Italia itu. Ferrari boleh memiliki dua orang juara dunia, namun jika tidak mendidik pembalap muda, sama saja tidak memikirkan kelanjutan tim tersebut untuk masa yang akan datang. Dan bumerang itu pun mulai terbukti. Sejak Felipe Massa harus menjalani masa penyembuhan di Brazil karena insiden yang dialaminya di GP Hongaria, Ferrari seakan kehilangan satu kakinya.<span id="more-106"></span></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/09/ferrarikacau_blog.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-107" title="ferrarikacau_blog" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/09/ferrarikacau_blog-300x203.jpg" alt="" width="300" height="203" /></a>Michael Schumacher yang diharapkan mengisi kekosongan sekaligus reuni, ternyata batal akibat cidera pada lehernya belum pulih. Tim Ferrari pun mendaulat test driver-nya yang merupakan pembalap veteran, Luca Badoer. Namun karena usianya yang sudah tidak muda serta motivasi yang tidak lagi sebesar dulu, Badoer pun hanya mampu finis tanpa mampu memberikan perlawanan terhadap pembalap lainnya.</p>
<p style="text-align: justify;">Padahal Ferrari terlanjur menyandang imej tim juara dunia yang memiliki paket strategi yang mapan. Tapi ternyata ini bukan jaminan, Ferrari masih lengah tanpa mengisi pembalap lapis dua yang muda dan berbakat.</p>
<p style="text-align: justify;">Bagi sebuah tim, pembinaan pembalap muda adalah hal yang tidak bisa ditawar. Dalam satu tim pasti akan selalu ada regenerasi pembalap. Namun Ferrari selama ini sepertinya hanya mapan karena merekrut pembalap yang memang sudah beberapa kali menang di F1.</p>
<p>“Beberapa tahun belakangan ini, kami memang melupakan faktor pembinaan pembalap. Kami akui itu adalah hal yang sangat fatal. Namun untuk kedepannya kami akan mulai kembali memupuk para pembalap muda berbakat,” ujar Stefano Domenicalli, bos tim Ferrari.</p>
<p style="text-align: justify;">Namun tidak akan semudah itu, karena pembinaan pembalap muda tidak berlangsung satu atau dua tahun saja. Proses ini perlu jenjang karir yang jelas agar pada saatnya nanti, tim Ferrari benar-benar memiliki pembalap yang matang.</p>
<p style="text-align: justify;">Akankah keteledoran tim sebesar Ferrari ini akan tetap berlanjut, ataukah Ferrari justru tetap berpikir praktis dengan merekrut pembalap yang sudah matang?</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/09/01/regenerasi-pembalap-ferrari-tanpa-strategi/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Mendorong ATPM Mengaplikasi Booster Electrolyser</title>
		<link>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/07/09/mendorong-atpm-mengaplikasi-booster-elektrolisa-air/</link>
		<comments>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/07/09/mendorong-atpm-mengaplikasi-booster-elektrolisa-air/#comments</comments>
		<pubDate>Wed, 08 Jul 2009 18:06:02 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[mobil]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otomotifnet.com/otoblog/?p=103</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Agus ‘Zoelis’ Triyono

OTOMOTIFNET - Tiap tahun volume kendaraan di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan. Tahun lalu, menurut data Gaikindo terjual 607.805 unit mobil baru. Dan yang lebih mengejutkan, data AISI 2008 menyebutkan total penjualan sepeda motor mencapai 6,215 juta unit. Fakta ini, selain membawa manfaat pemasukan pajak kendaraan juga memunculkan sederet permasalahan yang [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis : Agus ‘Zoelis’ Triyono</strong><br />
<strong><br />
</strong><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/07/macet-tol.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-105" title="macet-tol" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/07/macet-tol-300x177.jpg" alt="" width="300" height="177" /></a><strong>OTOMOTIFNET - </strong>Tiap tahun volume kendaraan di Indonesia mengalami lonjakan yang signifikan. Tahun lalu, menurut data Gaikindo terjual 607.805 unit mobil baru. Dan yang lebih mengejutkan, data AISI 2008 menyebutkan total penjualan sepeda motor mencapai 6,215 juta unit. Fakta ini, selain membawa manfaat pemasukan pajak kendaraan juga memunculkan sederet permasalahan yang tak kalah serius. Antara lain volume racun gas buang meningkat, kebutuhan bahan bakar semakin besar serta meluasnya kemacetan lalu-lintas.</p>
<p style="text-align: justify;">Mengatasi dampak negatif akibat pertumbuhan kendaraan yang tidak terkontrol, rasanya tidak cukup hanya dengan mengandalkan peran pemerintah. Produsen kendaraan (ATPM) baik mobil ataupun sepeda motor, punya kewajiban moral untuk turut serta mengurainya. Tentunya dengan langkah yang tepat agar produsen tetap boleh memproduksi kendaraan sebanyak-banyaknya tetapi pencemaran lingkungan lebih terkendali dan pemakaian bahan bakar lebih diefisienkan.<span id="more-103"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan tugas pemerintah adalah mengurai kemacetan dengan lebih agresif membangun infrastruktur jalan. Sehingga peningkatan volume kendaraan tiap tahun seimbang dengan luasan jalan yang tersedia. Toh untuk saat ini, rasanya belum adil jika harus menekan pemerintah untuk mengeluarkan regulasi pembatasan usia mobil. Sebab masih banyak masyarakat Indonesia yang belum merasakan memiliki mobil pribadi.</p>
<p style="text-align: justify;">Menitik beratkan pada kewajiban moral produsen kendaraan dalam upaya mengurai permasalahan tadi, langkah tepat apa yang seharusnya mereka lakukan? Dengan tidak menutup mata, harus diakui hingga saat ini produsen kendaraan telah mengembangkan teknologi yang demikian hebat. Sebut saja mobil berteknologi hybrid, berbahan bakar hydrogen hingga fuel cell. Tapi sayangnya, teknologi kelas wahid tersebut masih sangat mahal. Di negara maju saja belum booming apalagi di negera berkembang seperti Indonesia.</p>
<p style="text-align: justify;">Mungkin hanya mobil hybrid yang mendekati kenyataan untuk dijual di Indonesia yaitu Toyota Prius. Meskipun nantinya hanya segelintir orang yang mampu membeli karena sangat mahal untuk ukuran sedan seperti Prius. Andai saja pemerintah memberlakukan insentif buat mobil hybrid tanpa syarat, mungkin bisa lain ceritanya.</p>
<p style="text-align: justify;">Inilah fakta, bahwa teknologi modern yang telah diciptakan pabrikan kendaraan belum memenuhi unsur ekonomis sehingga penyebarannya terhambat. Lantas, apakah arif jika pabrikan kendaraan hanya berhenti sampai di sini? Pastinya tidak. Sebab masih banyak cara lain yang masih sangat mungkin untuk diciptakan. Tentunya lebih ekonomis dan memberikan manfaat tidak kalah dengan teknologi yang ada saat ini, seperti mobil hybrid ataupun hydrogen.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Booster HHO</strong><br />
Sekitar pertengahan tahun lalu, Indonesia dihebohkan dengan beragam berita penemuan aplikasi bahan bakar air untuk mobil. Mulai dari penemuan Joko Suprapto dari Nganjuk yang mengklaim mampu mengubah air laut menjadi Premium. Dan ada dua penemuan di Yogyakarta yaitu Bahan Bakar Nusantara oleh BWK Adjikusumo dan Banyu Geni yang dipatenkan Universitas Muhammadiyah Yogyakarta (UMY). Meskipun pada perkembangan selanjutnya, mereka tidak mampu membuktikan hasilnya alias omong kosong.</p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/07/booster-air.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-104" title="booster-air" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/07/booster-air-227x300.jpg" alt="" width="227" height="300" /></a>Penemuan lainnya yaitu sepeda motor berbahan bakar air karya Voll Johanes Bosco dari Palu, Sulawesi Tengah. Voll merancang pipa reaktor air yang dipasang pada motor. Selanjutnya, air dan bensin dimasukkan bersamaan ke dalam tangki dengan perbandingan 4:1. Ketika saya lakukan test, mesin bisa menyala tetapi kurang normal saat akselerasi. Menurut hemat saya, penemuan Voll tersebut lebih cocok buat mesin stasioner, seperti mesin pembangkit listrik.</p>
<p style="text-align: justify;">Heboh berikutnya, pengembangan alat elektrolisa air (electrolyser) yang menghasilkan brown gas atau HHO (2 hidrogen dan 1 oksigen). Saat ini pengembangan alat electrolyser cukup banyak macamnya dan diperjualbelikan. Ada electrolyser buatan Joko Sutrisno (Yogyakarta), Hendry Martin (Jakarta) serta teori pembuatan electrolyser sudah ditulis dalam buku berjudul Brown Energy, Rahasia Bahan Bakar Air karya Poempida Hidayatullah dan F. Mustari.</p>
<p style="text-align: justify;">Elektrolisa air (electrolyser) sendiri sudah mulai diteliti sejak abad 19 atau tepatnya 1884 silam. Prosesnya dengan mengalirkan listrik searah (DC) ke lilitan kawat yang memiliki desain tertentu. Lilitan kawat direndam air murni di dalam tabung tertutup. Ketika listrik mengalir, timbul magnet pada kawat dan menghasilkan gas HHO yang memiliki sifat mudah terbakar dan memiliki berton-ton energi.</p>
<p style="text-align: justify;">Selanjutny gas HHO yang dihasilkan electrolyser dimasukkan ke dalam silinder sebagai tambahan gas pembakaran atau booster. Sehingga energi pembakaran yang dihasilkan mesin jauh lebih besar dibanding tanpa booster HHO. Yang perlu digarisbawahi bahwa gas HHO bukan sebagai pengganti bahan bakar bensin atau solar. Biaya untuk membuat unit electrolyser juga sangat murah. Di pasaran, alat ini dijual bervariatif antara Rp 100 ribu sampai Rp 500 ribu.</p>
<p style="text-align: justify;">Hasil pengujian kendaraan yang telah mengaplikasi booster HHO juga cukup menjanjikan. Antara lain pemakaian bahan bakar (bensin/solar) menjadi lebih irit, emisi gas buang rendah, mesin lebih halus, ruang bakar bersih dan mesin lebih bertenaga. Redaksi Motor Plus pernah menguji Bajaj Pulsar 180 DTSi yang sudah memasang booster HHO, hasilnya 1 liter bensin tembus 266 km. Wou, luar biasa bukan?</p>
<p style="text-align: justify;">Data pengujian lain seperti disajikan dalam buku Brown Energy yaitu pada Toyota Avanza tembus 1:18,07 km (std 1:13) atau terjadi penghematan 39,03%. Lalu pada Mitsubishi L300 terjadi penghematan 93,98% yaitu dari 1:12 km menjadi 1:23,27 km.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Electrolyser Versi ATPM</strong><br />
Saat ini alat electrolyser penghasil gas HHO banyak diperjualbelikan. Tentunya dengan beragam desain dan manfaat. Tetapi mereka rata-rata mengklaim alatnya mampu melakukan penghematan antara 30 hingga 100%. Melihat kenyataan ini, saya menjadi berpikir mengapa produsen kendaraan tidak melengkapi produknya dengan booster electrolyser?</p>
<p style="text-align: justify;">Alasan saya sederhana, jika produsen rumahan saja bisa menghasilkan alat electrolyser yang berfungsi dengan baik maka pabrikan mobil/motor pasti akan bisa menghasilkan electrolyser yang jauh lebih bagus lagi. Karena pabrikan didukung oleh para ahli yang jumlahnya lebih banyak dan beragam.</p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang mari coba kita hitung terjadinya penghematan jika seluruh mobil dan motor baru yang laku tahun lalu (2008) sudah dilengkapi booster elektrolisa air. Katakanlah alat tersebut mampu menghemat 30%, tidak perlu sampai 100%.</p>
<p style="text-align: justify;">Pemakaian bahan bakar untuk mobil baru 2008 sebanyak 607.805 unit adalah sebagai berikut. Untuk memudahkan penghitungan, kita asumsikan bahan bakar Premium (Rp 4500) dengan konsumsi rata-rata 1:12 km dan rata-rata jarak tempuh per hari 50 km. Artinya setiap mobil butuh 4,167 liter Premium per hari atau totalnya 2.532.723,4 liter (Rp 11.397.255.300). Dalam setahun (365 hari) kebutuhan bensin menjadi 924.444.041 liter atau jika diuangkan menjadi <strong>Rp 4.159.998.184.500.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sedangkan pemakaian bahan bakar untuk sepeda motor baru 2008 sebanyak 6,215 juta adalah sebagai berikut. Bahan bakar Premium (Rp 4500), konsumsi rata-rata 1:30km dan jarak tempuh per hari 50 km. Artinya setiap motor butuh 1,67 liter Premium per hari atau totalnya menjadi 10.379.050 liter (Rp 46.705.725.000). Dalam setahun kebutuhan bensin untuk motor menjadi 3.788.353.250 liter atau kalau diuangkan<strong> Rp 17.047.589.625.000.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Sekarang mari kita hitung besarnya penghematan jika pasang booster electrolisa air. Asumsinya alat tadi mampu menghemat 30%. Untuk mobil baru terjadi penghematan Rp 4.159.998.184.500 x 30% = <strong>Rp 1.247.999.455.350. </strong>Sedangkan pada motor baru terjadi penghematan sebesar Rp 17.047.589.625.000 x 30% <strong>= Rp 5.114.276.887.500.</strong></p>
<p style="text-align: justify;">Total penghematan untuk mobil baru dan motor baru menjadi<strong> Rp 1.247.999.455.350 + Rp 5.114.276.887.500 = Rp 5.239.076.833.050</strong> (lebih dari Rp 5,2 triliun). Penghematan ini dengan asumsi untuk kendaraan baru yang diproduksi 2008. Bagaimana jika tahun berikutnya semua kendaraan baru sudah dipasang electrolyser? Kesimpulannya, tidak ada alasan bagi ATPM untuk tidak mencoba meriset booster electrolyser untuk tambahan fitur pada produk baru mereka.</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/07/09/mendorong-atpm-mengaplikasi-booster-elektrolisa-air/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>38 Mobil Akan Beradu di F1 2010?</title>
		<link>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/16/38-mobil-akan-beradu-di-f1-2010/</link>
		<comments>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/16/38-mobil-akan-beradu-di-f1-2010/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 16 Jun 2009 13:10:49 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sport]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otomotifnet.com/otoblog/?p=100</guid>
		<description><![CDATA[Penulis : Ahmad &#8220;Uda&#8221; Garuda
Pembatasan dana di F1 yang tetap dipertahankan oleh FIA, memang sangat menarik minat tim-tim baru musim ini. Tidak tanggung-tanggung, jika semuanya positif untuk bergabung akan ada 9 tim baru dan 10 tim lama. Dan jika satu tim paling tidak menurunkan dua unit mobil, berarti total mobil yang akan berlaga menjadi 38 [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis : Ahmad &#8220;Uda&#8221; Garuda</strong></p>
<p style="text-align: justify;"><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/06/36-mobil-f11.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-102" title="36-mobil-f11" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/06/36-mobil-f11-300x121.jpg" alt="" width="300" height="121" /></a>Pembatasan dana di F1 yang tetap dipertahankan oleh FIA, memang sangat menarik minat tim-tim baru musim ini. Tidak tanggung-tanggung, jika semuanya positif untuk bergabung akan ada 9 tim baru dan 10 tim lama. Dan jika satu tim paling tidak menurunkan dua unit mobil, berarti total mobil yang akan berlaga menjadi 38 mobil.</p>
<p style="text-align: justify;">Tidak terbayangkan jika 2010 nanti peserta tim balap F1 benar-benar bengkak menjadi 38 mobil. Dua tahun silam saja (2007) dengan jumlah 24 starter, lintasan F1 sudah terlihat sangat sesak.<span id="more-100"></span></p>
<p style="text-align: justify;">Keputusan tentang akan diberlakukannya pembatasan dana untuk musim depan, memang belum dikeluarkan secara resmi oleh FIA. Banyak hal yang harus dipertimbangkan oleh mereka, termasuk kekompakan tim-tim lama dan para pembalapnya untuk menarik diri jika pembatasan dana itu tetap diberlakukan. Belum lagi masalah regulasi penggunaan satu mesin, tentu ini akan membuat tim-tim besar seperti Ferrari, Renault, McLaren, Toyota , BMW dan lain sebagainya tidak akan setuju.</p>
<p style="text-align: justify;">Nah, berkaitan dengan tim-tim baru yang cukup banyak, besok akan diputuskan tim yang positif akan masuk dalam pertarungan musim 2010 mendatang. Yang jelas hingga saat ini, 9 tim baru sudah melakukan konfirmasi keikutsertaannya untuk musim 2010. Tim-tim baru yang sudah mendaftar tersebut adalah Prodrive, Lola Racing, Team Superfund, Team USGPE, Lotus Racing, Epsilon Euskadi Team, Brabham, March Racing dan Campos Meta1 Racing.</p>
<p style="text-align: justify;">Model seperti inikah yang diinginkan oleh para petinggi FIA untuk membuat tim-tim baru lebih berani untuk masuk di F1? Belum tentu ini hal yang positif bagi dunia F1. Bisa jadi langkah tersebut adalah langkah yang keliru bagi ajang balap paling bergengsi di dunia itu. Dan akan lebih parah lagi jika tim-tim baru tersebut tidak bisa mengembangkan paket teknologi mereka sesuai dengan keinginan FIA selama ini, dan hanya tampil sebagai tim pemanis saja di F1. Lebih ironis lagi bukan!</p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/16/38-mobil-akan-beradu-di-f1-2010/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
		<item>
		<title>Yamaha Setting Lorenzo Jadi Juara Dunia ?</title>
		<link>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/09/yamaha-setting-lorenzo-jadi-juara-dunia/</link>
		<comments>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/09/yamaha-setting-lorenzo-jadi-juara-dunia/#comments</comments>
		<pubDate>Tue, 09 Jun 2009 10:10:31 +0000</pubDate>
		<dc:creator>admin</dc:creator>
		
		<category><![CDATA[sport]]></category>

		<guid isPermaLink="false">http://otomotifnet.com/otoblog/?p=96</guid>
		<description><![CDATA[Seperti main game, makin tinggi levelnya makin susah musuhnya. Mungkin ini yang sedang dirasakan Valentino Rossi. Di awal debutnya di MotoGP, Rossi terlibat perseteruan dengan Max Biaggi, lalu ada Sete Gibernau. Meski lebih senior, keduanya eces di asapi Rossi.
Level naik makin tinggi, Rossi tak hanya bertarung melawan pembalap, tapi juga harus melawan mesin. Dia adalah [...]]]></description>
			<content:encoded><![CDATA[<p style="text-align: justify;"><a href="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/06/rossi-vs-lorenzo-1.jpg"><img class="alignleft size-medium wp-image-97" title="rossi-vs-lorenzo-1" src="http://otomotifnet.com/otoblog/wp-content/uploads/2009/06/rossi-vs-lorenzo-1-300x139.jpg" alt="" width="300" height="139" /></a>Seperti main game, makin tinggi levelnya makin susah musuhnya. Mungkin ini yang sedang dirasakan Valentino Rossi. Di awal debutnya di MotoGP, Rossi terlibat perseteruan dengan Max Biaggi, lalu ada Sete Gibernau. Meski lebih senior, keduanya eces di asapi Rossi.</p>
<p style="text-align: justify;">Level naik makin tinggi, Rossi tak hanya bertarung melawan pembalap, tapi juga harus melawan mesin. Dia adalah duet Stoner dan Ducati. “Buat motorku 10 km/jam lebih cepat dari sekarang, sisanya biar aku yang mengusahakan,” pinta Rossi kala YZR M1 yang ditungganginya kalah kencang dari Ducati. Jelas kan bila saat itu tingkat kesulitannya makin tinggi.<strong><br />
</strong><span id="more-96"></span><strong><br />
Dua Musuh Dalam Selimut</strong><br />
Hasilnya Rossi kini telah sukses mengasapi Stoner dan Ducati yang artinya pembalap Italia ini juga harus kembali naik level. Di level ini Rossi harus menghadapi musuh dalam selimut. Totalnya ada dua musuh dalam selimut sekaligus, maklum juara dunia berkali-kali musuhnya harus lebih susah.</p>
<p style="text-align: justify;">Musuh dalam selimut yang pertama adalah Jorge Lorenzo, rekan satu timnya di Fiat Yamaha. Yang kedua adalah timnya sendiri. Kenapa? Karena keduanya memiliki privasi dan strategi sendiri-sendiri. Sejak awal Yamaha memang sengaja tidak membuat kebijakan mana pembalap pertama dan mana pembalap kedua.</p>
<p style="text-align: justify;">Setiap pembalap memiliki team manager dan kru mekanik sendiri-sendiri. Rossi dikawal tim yang dipimpin Davide Brivio, sedang Lorenzo punya Daniele Romagnoli sebagai manager tim. Akhirnya pemisahan ini membuat tidak ada kata teman diantara mereka berdua, keduanya tetap bersaing layaknya pembalap lain di MotoGP.</p>
<p style="text-align: justify;">Bedanya Rossi dan Lorenzo pakai baju balap dengan warna yang sama dan motor Yamaha YZR M1 dengan spesifikasi yang sama persis. Nah, ini inti masalahnya, kalau motornya sama persis tentunya bukan hanya adu skill di lintasan tapi ada faktor gengsi diantara keduanya. Rossi jelas ogah dibilang kalah dari Lorenzo yang pakai motor sama persis.</p>
<p style="text-align: justify;">Kalau sampai kalah, jelas pembalap kelahiran Urbino, Italia ini ketiban malu. Skillnya yang katanya tidak ada tandingan itu bisa dipertanyakan, kemampuannya memberikan input data settingan motor pun juga jadi meragukan. Persaingan tidak akan makin memanas jika Lorenzo tidak punya skill yang mumpuni untuk setara dengan Rossi. Apesnya Lorenzo mampu menandingi Rossi.</p>
<p style="text-align: justify;">Sampai saat ini, Rossi terbukti kewalahan menghadapi Lorenzo. Ketenangan dan kedewasaan Rossi saat bertarung dengan musuh-musuhnya di level sebelumnya (Biaggi, Gibernau, Stoner) hilang sudah. Emosi Rossi sering tak terkontrol saat bertarung dengan Lorenzo.</p>
<p style="text-align: justify;">Contohnya ketika Rossi terburu-buru ganti ban slick di Le Mans ketika aspal masih basah yang akhirnya membuatnya terjatuh. Pembalap tinggi jangkung ini seolah tidak pernah mau di dahului rekan satu timnya ini. Dan sebaliknya Lorenzo sendiri mampu tampil tenang, wajar saja Lorenzo tak punya beban. Menang hebat, kalah juga maklum masih belum se senior Rossi.</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Yamaha Bikin Lorenzo Jadi Juara Dunia</strong><br />
Sebagai musuh dalam selimut kedua, Yamaha tahu benar potensi Lorenzo. Tak heran bila Yamaha memberikan harapan pada obsesi Lorenzo yang juga ingin jadi juara dunia dengan memberikannya tim yang sangat baik di bawah kepemimpinan Romagnoli sebagai manager tim. Caranya seperti yang sudah di jelas kan di atas.</p>
<p style="text-align: justify;">Ini semua bisa jadi pertanda pabrikan Yamaha memang menyiapkan konflik Rossi-Lorenzo. Sekaligus menyiapkan Lorenzo sebagai juara dunia di atas Yamaha YZR M1. Agar tercipta image Yamaha yang kencang bukan hanya Rossi-nya yang hebat.</p>
<p style="text-align: justify;">Masuk akal kan?</p>
<p style="text-align: justify;"><strong>Penulis : Dimas &#8216;Popo&#8217; Pradopo<br />
</strong></p>
]]></content:encoded>
			<wfw:commentRss>http://otomotifnet.com/otoblog/index.php/2009/06/09/yamaha-setting-lorenzo-jadi-juara-dunia/feed/</wfw:commentRss>
		</item>
	</channel>
</rss>
